Konservasi Lereng Merapi dengan Talok (Muntingia calabura L.)


 

Pasca erupsi, lereng Merapi menjadi gundul karena banyak pepohonan mati dan tumbang. Permukaan bumi menjadi  rata dan penuh dengan timbunan material vulkanik. Abu volkan  tersebut memiliki sifat lepas-lepas (unconsolidated). Karena tidak ada penutup di permukaannya, selama musim hujan berlangsung dengan intensitas yang tinggi, abu tersebut akan terbawa air limpasan menjadi lahar dingin. Agregasi abu volkan dapat dipercepat dengan peningkatan kandungan bahan organik. Untuk itu perlu dilakukan penghijauan dengan maksud segera menutup permukaan lahan dari hantaman air hujan juga mempercepat akumulasi bahan organik tersebut.

Menilik sifat-sifatnya talok (Muntingia calabura L.)  dapat ditanam di lereng Merapi. Tanaman ini dapat hidup pada lingkungan tanah yang marginal, tahan terhadap kondisi masam (pH rendah) atau alkalis (pH tinggi)  dan kekeringan. Talok dapat berbuah pada umur kurang dari 1 tahun. Penyebaran dengan biji yang terbawa bersama feses burung atau kelelawar.  Perbanyakan vegetatif dapat juga terjadi dengan tunas akar. Setelah tanaman ini tumbuh berkembang menjadi besar dapat dipangkas untuk menghasilkan mulsa penutup tanah.

Bacaan:

It is a pioneer species that thrives in poor soil, able to tolerate acidic and alkaline conditions and drought. Its seeds are dispersed by birds and fruit bats. It is cultivated for its edible fruit, and has become naturalised in some other parts of the tropics, including southeastern Asia. As a pioneer plant, it could help condition the soil and make it habitable to other plants. However, it might also be considered as an invasive species since it might out-compete indigenous plants.

It is a small tree 7-12 meters tall with tiered and slightly drooping branches. It has serrated leaves 2.5-15 cm long and 1-6.5 cm wide. The flowers are small ,white and slightly malodorous. It gives rise to 1-1.5 cm light red fruit. The fruit is edible, sweet and juicy, and contains a large number of tiny (0.5 mm) yellow seeds. (Source: Wikipedia)

4 thoughts on “Konservasi Lereng Merapi dengan Talok (Muntingia calabura L.)

  1. Jaki hal ini disetujui oleh Penguasaha Merapi sungguh sangat indah. Anak cucu kita akan menamai hutan Merapi menjadi Alas Mentalok. Sementara, Jogjakarta berasal dari Alas Mentaok. Cocok. Tapi, itu dari sisi ilmu tanah. Lalu dari sisi ilmu “buah talok”. Apa sudah ditemukan pemanfaatan buah talok yang lebih Lanjut?

    • Pak Ilyas, buah talok jelas untuk konsumsi burung dan kelelawar. Jadilah hutan mentalok yang kaya berbagai spesies burung dan kelelawar. Nah feses burung dan kelelawar yang mengumpul dapat dipanen sebagai pupuk “guano”. Buah talok dapat juga dimanfaatkan sebagai obat.

  2. Pingback: Membangun Kesuburan Lahan Pantai | Kesuburan Tanah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s