Lahan marginal


Sumber daya lahan merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan keberhasilan suatu sistem usaha pertanian, karena hampir semua usaha pertanian berbasis pada sumber daya lahan. Lahan adalah suatu wilayah daratan dengan ciri mencakup semua watak yang melekat pada atmosfer, tanah, geologi, timbulan, hidrologi dan populasi tumbuhan dan hewan, baik yang bersifat mantap maupun yang bersifat mendaur, serta kegiatan manusia di atasnya. Jadi, lahan mempunyai ciri alami dan budaya (Notohadiprawiro, 1996).

Istilah ”marginal” menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) adalah: 1. berhubungan dengan batas (tepi); tidak terlalu menguntungkan, 2. berada di pinggir. Memarginalkan berarti meminggirkan atau memojokkan. Dalam Merriam-Webster Dictionary, marginal defined as close to the lower limit of qualification, acceptability or function. Wacana mengenai lahan marginal dapat ditelusur pada tulisan Peterson dan Galbraith (1932) yang berjudul The Concept of Marginal Land. Scherr dan Hazell (1994) memberi pengertian lahan marginal sebagai lands unsuitable for continuous tillage or lands where there were major constraints to economic use of industrial inputs. Marginal lands menurut Ojating cit. Olanrewaju dan Ezekiel (2005) are those lands which have lost their ability to support the required biodiversity either through natural catastrophes and or human destructive activities. Menurut Strijker (2005), marginal lands are characterised by land uses that are at the margin of economic viability.

Lahan marginal dapat diartikan sebagai lahan yang memiliki mutu rendah karena memiliki beberapa faktor pembatas jika digunakan untuk suatu keperluan tertentu. Sebenarnya faktor pembatas tersebut dapat diatasi dengan masukan, atau biaya yang harus dibelanjakan. Tanpa masukan yang berarti budidaya pertanian di lahan marginal tidak akan memberikan keuntungan. Ketertinggalan pembangunan pertanian di daerah marginal hampir dijumpai di semua sektor, baik biofisik, infrastruktur, kelembagaan usahatani maupun akses informasi untuk petani miskin yang kurang mendapat perhatian.

5 thoughts on “Lahan marginal

  1. Kpd YTH Nasih

    Apakah lahan masam seperti pada tanah-tanah Oxisols dapat digo longkan pada lahan marginal? di daerah sy ada tanah Oxisols yang sulit tumbuh tanaman, bagaimana kira2 cara pengelolaannya supaya produktivitas tanahnya dapat ditingkatkan untuk kebutuhan pertanian?
    Terima kasih sebelumnya..

    • Tanah Oxisol, di daerah mana itu ? apa tanaman yang ada sekarang ?
      Dapat dilakukan pengelolaan lahan terbatas atau gunakan prinsip hidroponik.
      Coba dibuat pot alam. Buat lubang dengan ukuran (0,5 x 0,5 x 0,5) m3 isi dengan tanah lapis olah atau material lembut di lokasi tersebut, campurkan dengan bahan organik (seresah tanaman, pupuk kandang secukupnya). Tanam pohon di pot tersebut. Tambahkan air yang diberi larutan hara (fertigasi) misalnya dengan bumbung (bambu besar 3 ruas, ruasnya dilubang, keculai yang paling bawah)pada bagian bawah bumbung buat lubang kecil dan beri sumbu agar air mengalir pelan. Bumbung tersebut diletakkan sejajar dengan pohon, diberi penguat tersendiri. Lakukan hal tersebut 1-3 tahun terutama di musim kering. sampai tanaman cukup kuat perakarannya. Kumpulkan serasah tanaman, jangan dibakar. Semoga pohon tersebut menjadi perintis untuk menyuburkan tanah di tempat tersebut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s