Membangun Kesuburan Lahan Pantai


Upaya pemanfaatan, perbaikan dan peningkatan kesuburan lahan pertanian di kawasan pasir pantai yang secara alami kurang produktif dapat dilakukan melalui penerapan teknologi dan pemberdayaan masyarakat. Pemberian masukan tertentu misalnya lempung, kapur, zeolite atau kompos dapat dilakukan ke dalam tanah dengan tujuan perbaikan sifat fisika, kimiawi dan biologi tanah.

Menurut Permentan No. 41/Permentan/OT. 140/9/2009 Tahun 2009, intensifikasi kawasan atau lahan pertanian pangan berkelanjutan dilakukan dengan: a. peningkatan kesuburan tanah; b. Peningkatan kualitas benih/bibit; c. Pendiversifikasian tanaman pangan; d. pencegahan dan penanggulangan hama tanaman; e. pengembangan irigasi; f. Pemanfaatan teknologi pertanian; g. pengembangan inovasi pertanian; h. penyuluhan pertanian; dan/atau i. jaminan akses permodalan. Pengelolaan kesuburan tanah merupakan hal penting mengingat budidaya pertanian secara umum dilakukan di atas tanah, dari dalam tanah itulah kebutuhan hara bagi tanaman tercukupi. Pada lahan yang tidak sesuai untuk budidaya pertanian, teknik hidroponik atau aeroponik dapat diterapkan, jadi meskipun tanah tidak subur namun produktif.

Berdasarkan pengamatan selintas terhadap kegiatan pertanian yang sudah berjalan di pantai selatan Kabupaten Bantul dan Kulon Progo, dapat diusulkan beberapa kegiatan untuk membangun kesuburan tanah di lahan pantai :

  1. Penanaman pohon pada zona terdekat dengan pantai (sempadan laut) perlu dilaksanakan serentak sepanjang kawasan pantai (0-200 m). Pilih pohon perintis yang cepat besar, misalnya talok (kersen, Muntingia calabura) atau trembesi (Albizia saman) untuk menghasilkan biomassa sehingga kelak menjadi sumber bahan organik tanah, memperbaiki iklim mikro dan mengatasi angin dari laut, konservasi air, menjaga diversitas biota tanah, menjadi habitat burung, lebah dan kelelawar, dan wahana rekreasi. Pohon yang baru ditanam tersebut perlu dirawat dan dibekali dengan pupuk dan air yang cukup selama 2-3 tahun, perhatian penuh perlu diberikan pada saat tanam (musim penghujan) dan musim kemarau berikutnya, banyak program penghijauan gagal pada tahap ini. Setelah pohon perintis tumbuh dengan rindang, dapat diganti sebagian dan secara bertahap dengan pohon lain yang lebih kuat dan bermanfaat misalnya mahoni (Swietenia mahagony) atau jambu mete (Anacardium occidentale). Mikrobia yang hidup pada wilayah perakaran (risosfer), mampu menambat N dari udara, melarutkan P dan unsur hara lain dari mineral, serta mempercepat proses pembentukan tanah sehingga media tersebut lebih sesuai untuk pertumbuhan tanaman.
  2. Pupuk organik yang akan digunakan perlu diolah dengan baik. Di banyak lokasi limbah ternak unggas hanya dionggokkan di tepi jalan, merupakan pemandangan yang tidak nyaman, menimbulkan bau yang tidak sedap serta menjadi tempat lalat berkerumun. Aplikasi langsung limbah segar dari industri peternakan hanya akan membawa vektor atau pathogen ke lahan pertanian. Usaha pengomposan yang benar perlu diterapkan di wilayah tersebut.
  3. Pupuk organik yang diberikan pada lahan pasir hanya bertahan dalam waktu 10-15 tahun, hal ini disebabkan perombakan yang intensif oleh mikrobia pada suasana iklim yang lebih hangat. Kadar lempung yang secara alami memang sangat rendah menyebabkan fraksi bahan organik terbuka tidak ada yang mengikat atau melindungi, sehingga sangat mudah diserang mikroba perombak. Buku yang ditulis oleh Huang dkk. (2008) “Soil Mineral–Microbe-Organic Interactions menjelaskan banyak hal mengenai interaksi antara mineral, organik dan mikrobia dalam tanah. Sebagai alternatif pupuk organik matang tersebut diolah terlebih dahulu dengan bahan mineral lempung menjadi bentuk organo-mineral, baru diberikan ke lahan pertanian. Dalam formula baru ini dapat ditambahkan unsur hara mikro, mikrobia yang bermanfaat, maupun senyawa pengatur tumbuh.
  4. Fraksi lempung perlu ditingkatkan di lahan pasiran. Aplikasi lempung membutuhkan biaya dan ongkos yang tidak sedikit. Sebagai alternatif biomassa yang ada di wilayah ini dikonversi menjadi arang, dengan proses pirolisis atau pembakaran tanpa oksigen. Pembakaran konvensional yang menyisakan abu sebaiknya dihentikan diganti dengan pengarangan. Arang berfungsi sebagai bahan penjerap yang mampu menaikkan daya simpan dan lepas terhadap unsur hara dan lengas dalam tanah. Arang dapat bertahan sampai ratusan tahun karena tahan   terhadap perombakan mikrobia. Reaktor pengarangan dapat dibuat dengan memodifikasi tungku pembakaran bata atau keramik yang sudah ada. Tulisan lengkap mengenai aplikasi arang dapat dibaca pada buku yang diedit oleh Lehmann dan Joseph (2009) berjudul “Biochar for environmental management : science and technology”.
  5. Agar kebutuhan hara yang relatif besar dan singkat untuk budidaya sayur dan buah seperti bawang merah, lombok, semangka dan melon perlu aplikasi pupuk cair yang diberikan dengan penyemprotan pada daun atau dialirkan bersama air irigasi. Pembuatan pupuk organik cair dapat dilaksanakan dengan memanfaatkan bak beton (eks sumur rentang) yang tidak terpakai. Kotoran sapi dan kambing berupa feses (padat) dan urine dapat digunakan sebagai bahan dasar. Pengadukan dan aerasi akan mempercepat proses pembuatan pupuk cair tersebut.

Tulisan lengkap baca : Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan atau unduh file pdf.

One thought on “Membangun Kesuburan Lahan Pantai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s