Rekomendasi pemupukan

Langkah yang ditempuh dalam menetapkan rekomendasi pemupukan adalah:

  1. Menghitung kebutuhan hara untuk suatu target hasil panen,
  2. Menghitung penyediaan hara dari tanah,
  3. Menghitung efisiensi serapan hara,
  4. Menghitung takaran hara,
  5. Menentukan waktu aplikasi.

Untuk memudahkan pelaksanaan di lapangan, umumnya dibuat paket pemupukan berdasarkan tingkat kesuburan tanah.  Contoh pembuatan rekomendasi untuk tanah sawah:

Tabel . Tingkat kesuburan tanah sawah

Karakter Kategori kesuburan
tidak subur subur sangat subur
Tekstur pasiran, pasir geluhan, geluh pasiran geluh lempungan, lempung geluh lempungan,  lempung
C-organik (% C) < 1 1-1,5 1,5 – 2,5
KPK (cmolc kg-1) < 10 10-20 > 20
P-Olsen (ppm) <5 5-10 > 10
K tertukar (cmolc kg-1) <0.15 0.15–0.30 > 0,3
pH setelah tergenang <6.5 6,5-7 6,5 – 7
Kekahatan/keracunan hara mikro ya nihil nihil
Hasil (GY0) (t ha-1) 2.5 4,0 5,0
INS (sediaan asli N) (kg N ha-1) 30 50 70
IPS (sediaan asli P) (kg P ha-1) 10 15 20
IKS (sediaan asli K) (kg K ha-1) 50 75 100

Tabel . Rekomendasi pemupukan untuk sawah dengan irigasi

Tanah / 

Target hasil

Musim Kemarau 

(Ymax ~ 10 t ha-1)

Musim Hujan 

(Ymax ~ 7.5 t ha-1)

N P K N P K
(t ha-1) (kg ha-1) (kg ha-1)
Tanah tidak subur
4 60–80 8–12 20–40 60–80 8–12 20–25
5 90–110 15–25 50–60 90–120 15–25 50–60
6 120–150 25–40 80–100 - - -
7 150–200 35–60 110–140 - - -
Tanah subur
4 0 8–12 10–40 0 8–12 10–40
5 50–70 10–15 15–50 50–70 10–15 15–50
6 90–110 12–18 30–60 100–120 12–18 40–60
7 120–150 15–30 60–80 - - -
8 160–200 35–50 110–130 - - -
Tanah sangat subur
4 0 8–12 10–40 0 8–12 10–40
5 0 10–15 15–50 20–30 10–15 15–50
6 50–60 12–18 20–60 60–80 12–18 20–60
7 80–100 14–21 20–70 - - -
8 120–150 15–25 60–80 - - -

Sumber: Dobermann & Fairhurst (2000).

 

Bacaan lanjut:

World Fertilizer Use Manual : The manual is a 600-page handbook, containing detailed information on current fertilizer use recommendations and practices, for a wide range of world crops. Each chapter contains: information on the biology of the crop, plant and soil analysis data, nutrient uptake and removal figures, recommendations for fertilizer use, current fertilizer practice in different countries, further reading.”

Gejala visual tanaman

Pengambilan hara yang kurang mencukupi dalam tubuh tanaman mengakibatkan munculnya gejala kekahatan.

Prinsip yang harus dipegang dalam mengenali gejala visual adalah:

  1. fungsi dasar unsur hara,
  2. dinamika atau mobilitas hara dalam tubuh tanman, dan
  3. interaksi hara.

Gejala visual berkaitan dengan fungsi hara, misalnya hara N diperlukan dalam pembentukan klorofil, maka kekurangan N akan diikuti klorosis daun. Letak munculnya gejala berkaitan dengan sifat mobilitas hara dalam jaringan tanaman, misalnya unsur N dengan cepat dapat dipindahkan dari daun yang tua ke titik tumbuh, sehigga dedaunan yang baru berwarna hijau, sedangkan klorosis muncul pertama kali pada daun yang lebih rendah pada pohon atau yang lebih tua.

Unsur Ca berfungsi sebagai penyusun lamella tengah (Ca-pektat), jika tanaman kekahatan Ca maka pertumbuhan terhambat, kerusakan terlihat pada titik tumbuh karena pembelahan sel terhenti.

KUNCI DETERMINASI KEKAHATAN HARA

Gejala Unsur
A. Gejala utama berupa klorosis daun  
A1. Seluruh lembar daun  
A1a. pada bagian bawah tanaman, diikuti nekrosis dan lepas NITROGEN
A1b. seluruh bagian tanaman SULFUR
   
A2. Daging diantara tulang daun  
A2a. daun tua atau dewasa baru MAGNESIUM
A2b. daun muda  
A2b1. tak ada gejala lain BESI
A2b2. terdapat bintik kelabu pada daerah klorosis MANGAN
A2b3. ujung daun tetap hijau, klorosis pada urat daun, tepi daun mengalami nekrosis dengan cepat TEMBAGA
A2b4. daun muda sangat kecil, tanpa lembar daun,  ruas menjadi pendek (roset) SENG
   
B. Klorosis bukan gejala utama  
B1. Gejala muncul pada bagian bawah tanaman  
B1a. Seluruh daun hijau tua, diikuti pertumbuhan kerdil, muncul pigmen ungu terutama pada daun tua FOSFOR
B1b. Tepi daun tua mengalami klorosis dan terbakar, atau bintik klorosis berkembang cepat menjadi nekrosis tersebar pada lembar daun tua KALIUM
   
B2. Gejala muncul pada bagian atas tanaman  
B2a. Tunas muda mati, pertumbuhan berkembang menyamping; daun muda menjadi tebaI, berkulit dan klorosis; terjadi retakan dan lubang pada cabang baru atau tangkai bunga BORON
B2b. Tepi daun tidak terbentuk, daun memanjang; titik tumbuh terhenti; jaringan muda berwarna hijau terang atau mengalami klorosis yang tidak merata; pertumbuhan akar buruk pendek dan tebal KALSIUM

Beberapa faktor penting yang juga perlu diperhatikan adalah: intensitas gejala (kekahatan ringan tidak menampakkan gejala), umur tanaman, varitas tanaman, musim, kekahatan beberapa hara secara bersamaan, keracunan, populasi dan kesehatan tanaman.

Kelemahan gejala kekahatan hara:

  1. Gejala visual yang serupa dapat disebabkan oleh lebih dari satu hara, misalnya gejala klorosis antar tulang daun pada daun yang muda merupakan watak kekahatan Fe atau Mn.
  2. Gejala visual serupa dapat pula disebabkan serangga, penyakit, herbisida atau faktor lainnya, misalnya gejala kekahatan B dan bekas dimakan belalang pada legum hampir sama kenampakannya.
  3. Kekahatan hara pada tanaman mungkin bukan karena kekurangan hara dalam tanah, tetapi dapat disebabkan keadaan pH, kelebihan hara lain, atau adanya faktor penghambat pertumbuhan akar.
  4. Pada saat menunjukkan gejala visual kekahatan hara, kehilangan hasil secara murad telah terjadi.

Uji cepat tanaman

“Tissue testing: an analysis of extracted cellular, sap normally carried out inthe field, makes use of special papers,reagents and testing kits.”

Deteksi dikerjakan di lahan petani secara cepat dan praktis (rapid, quick-test), sehingga hasilnya dapat diketahui segera. Sedangakan hasil uji lab. baru diketahui  setelah beberapa minggu. Untuk mengetahui respon dari perlakuan sedang yang diberikan bagi tanaman, misalnya diberi pupuk dengan cara disebar atau melalui air irigasi.

Chlorophyll meter: digunakan untuk mengukur tingkat kehijauan daun. Ini cara praktis untuk mengukur kadar N daun secara tidak langsung. Warna hijau ditentukan oleh kadar N sebagai penyusun klorofil. IRRI yang  berpusat telah mengembangkan penggunaan LCC (leaf colour chart = bagan warna daun) untuk menentukan kebutuhan pupuk N pada tanaman padi. Analisis getah tanaman: dengan pewarnaan, untuk mengukur kadar nitrat atau K+.

Prinsip kerja: bahan + reagen –> reaksi warna

  1. Jaringan tertentu dipotong-potong, ditambah akuades
  2. Getah jaringan diperas
  3. Penafsiran hasil: RENDAH – CUKUP – TINGGI
  4. Sebaiknya dikerjakan 6 kali per musim, jika 1 kali ambil pada saat berbunga. Jumlah ulangan 10-15 per lahan.

Bandingkan hasil antara lahan yang cukup hara dengan yang kahat.

Analisis jaringan

“Leaf analysis: determines the elemental content of a particular plant part, a laboratory analysis of collected plant tissue.”

Pengukuran kuantitatif status hara suatu tanaman, dilakukan dengan pengambilan cuplikan tanaman di lapangan diteruskan dengan analisis di lab. Diperlukan untuk konfirmasi suatu diagnosis visual, dapat mendeteksi kekahatan pada tahap dini sehingga perbaikan masih dimungkinkan untuk mencegah kehilangan hasil panen. Digunakan bersama dengan uji tanah, karena kekahatan tanaman tidak selalu berhubungan dengan kekurangan hara dalam tanah. Rekomendasi pemupukan seingkali lebih baik dibuat berdasarkan hasil uji tanah dibandingkan analisis jaringan.

Langkah yang dikerjakan dalam analisis jaringan meliputi:

  1. pengambilan cuplikan di lapangan,
  2. penyiapan cuplikan (dikeringkan, dihaluskan),
  3. destruksi basah atau kering
  4. penetapan kadar hara (gravimetri, titrasi, spektrofotometri, flamfotometri)
  5. penafsiran hasil dan pembuatan rekomendasi.

Pengambilan cuplikan yang tepat merupakan langkah yang penting. Aras kecukupan hara ditentukan berdasarkan letak bagian tanaman yang diambil sebagai cuplikan pada fase pertumbuhan tertentu, misalnya: (1). daun yang baru saja dewasa  dan membuka secara sempurna (recently matured, fully expanded leaves), atau (2). tangkai daun dari daun yang baru saja dewasa (petioles from recently matured leaves).

Pengambilan pada fase kebutuhan tanaman sampai dipuncaknya (high nutrient demand), misalnya: (1).  titik puncak fase vegetatif (peak vegetative growth stage), atau (2). fase generatif (reproductive stage). Penafsiran hasil untuk setiap tanaman bersifat spesifik.

Manfaat analisis jaringan tanaman adalah:

  1. untuk mengetahui kadar hara dalam jaringan tanaman, atau
  2. untuk menghitung serapan hara oleh tanaman.

Tingkat kecukupan hara dalam jaringan tanaman dapat dibedakan:

  1. Aras kritis (critical value, critical level, critical nutrient concentration) menunjukkan kadar hara dalam jaringan, dibawah kadar ini menampakkan gejala kekahatannya, umumnya pada aras ini hasil panen turun 10%. Jika diberi tambahan hara, tanaman bersifat sangat responsif, dan gejala kekahatan akan menghilang.
  2. Kisaran kritis hara (critical nutrient range): sukar untuk ditentukan secara tepat, merupakan peralihan antara wilayah kekahatan dengan kecukupan hara, hasil tanaman berkurang antar 0% sampai 10%. Pemberian hara akan meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman.
  3. Kisaran kecukupan (sufficiency range, sufficiency level, sufficiency zone): kadar hara cukup untuk mendukung pertumbuhan dan hasil panen yang maksimum, pemberian hara dapat meningkatkan kadar hara dalam jaringan tetapi tidak mempengaruhi pertumbuhan tanaman.
  4. Aras berlebihan atau meracun (excessive or toxic level): kadar hara terlalu tinggi mengakibatkan penurunan pertumbuhan dan hasil tanaman, jika kadarnya sangat tinggi dapat meracuni tanaman atau mengakibatkan gangguan ketimpangan hara (imbalance of nutrients).